Ketergantungan Pangan dari Luar Daerah Dinilai Rawan Picu Gejolak Harga di Gumas

GUNUNG MAS, BORNEO7.COM — Anggota DPRD Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Nomi Aprilia, menyoroti tingginya ketergantungan daerah terhadap pasokan bahan pokok dari luar wilayah yang dinilai berpotensi memicu gejolak harga pangan.
Menurut Nomi, sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Gumas, seperti beras, sayuran, dan gula, masih didatangkan dari sejumlah daerah di luar Gumas, termasuk Banjarmasin, Sampit, hingga Pulau Jawa.
“Ketergantungan ini cukup tinggi dan rentan. Ketika distribusi terganggu, maka harga pangan bisa langsung bergejolak,” ucap Nomi, Kamis (2/7/2027).
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat kelancaran distribusi bahan pokok sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Nomi mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sektor pertanian dan pangan lokal agar kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Menurutnya, peningkatan produksi pangan lokal dapat dilakukan melalui dukungan kepada petani, penyediaan sarana produksi, penguatan infrastruktur pertanian, serta pembinaan terhadap kelompok tani.
Selain meningkatkan ketahanan pangan daerah, langkah tersebut juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan mengurangi risiko kenaikan harga ketika terjadi gangguan distribusi dari luar daerah.
“Pemerintah perlu mendorong kemandirian pangan secara bertahap. Dengan produksi lokal yang kuat dan distribusi yang baik, ketahanan pangan serta stabilitas harga di Gumas dapat lebih terjaga,” pungkasnya. (RD).





